Hanya pada waktu
Pada waktu aku menumpahkan nya
Dengan senja yang perlahan menepi
Membias semua rasa
Agar luka tak datang lagi
Hanya waktu yang tersisa
Pada waktu aku bercengkrama
Disaat yang ku puja
Tak lagi ada untuk sandaran atas simpuhan derita
Pada waktu, aku bercerita
Tentang detik ini
Atas dia yang tak lagi ada
Rabu, 27 November 2019
Sabtu, 23 November 2019
Bukan lagi bagian dunia ini
Waktu berlalu begitu saja
Sedangkan aku masih saja berdiri disini
Menatap diri dengan sepi
Baru saja ku dapati sosokmu
Berjalan ke arah ku dengan tatapan kosong
Berlalu, melewati ku
Tak ku dapati sedikit pun matamu memandang
Aku masih berdiri di sini
Menikmati malam berlalu pergi
Menunggu mentari menampakkan diri
Hingga seketika aku menyadari
Bahwa aku bukan lagi bagian dari dunia ini
Hanya saja, aku masih tertahan untuk berdiri dan menanti
Akan sosok yang tak mungkin menjumpai
Sedangkan aku masih saja berdiri disini
Menatap diri dengan sepi
Baru saja ku dapati sosokmu
Berjalan ke arah ku dengan tatapan kosong
Berlalu, melewati ku
Tak ku dapati sedikit pun matamu memandang
Aku masih berdiri di sini
Menikmati malam berlalu pergi
Menunggu mentari menampakkan diri
Hingga seketika aku menyadari
Bahwa aku bukan lagi bagian dari dunia ini
Hanya saja, aku masih tertahan untuk berdiri dan menanti
Akan sosok yang tak mungkin menjumpai
Kamis, 21 November 2019
Harapan
Pada malam..
Dengan segala kesunyian nya
Aku tertatih, akan sepi yang kau berikan
Dengan segala pekat yang menawan
Padamu aku terdiam
Akan ego yang mengikat untuk tetap bertahan
Namun diri selalu berlari akan kenyataan
Seakan kau patah harapan
Akan angan bersua
Duduk bercengkrama menatap senja
Berjalan bersama di atas bahagia
Hal sederhana yang indah bukan
Namun sayang, itu masih saja jadi khayalan
Biar saja kutitipkan pada bulan
Yang diam-diam menyusup dalam pekat nya malam
Dengan segala kesunyian nya
Aku tertatih, akan sepi yang kau berikan
Dengan segala pekat yang menawan
Padamu aku terdiam
Akan ego yang mengikat untuk tetap bertahan
Namun diri selalu berlari akan kenyataan
Seakan kau patah harapan
Akan angan bersua
Duduk bercengkrama menatap senja
Berjalan bersama di atas bahagia
Hal sederhana yang indah bukan
Namun sayang, itu masih saja jadi khayalan
Biar saja kutitipkan pada bulan
Yang diam-diam menyusup dalam pekat nya malam
Senin, 18 November 2019
Perihal rindu
Perihal rindu..
Pertemuan tidak memberikan jaminan untuk tidak lagi merindu
Apalah daya, rindu diantara kita terlanjur bernyawa. Saat dekat, ia hanya jinak. Ada jarak, ia meringik
Dan aku hanya bisa diam, menutup mata, memutar kenangan. Berharap rindu sedikit berkurang
Adakah elemen pengendali rindu?
Rinduku juga menarik,
Diam tak berkutik
Saat yg ku rindukan di depan mata
Aku larut terlena.
Perihal rindu
Ada banyak rasa di dalamnya
Dan teramat menyiksa
Lalu, kita tumpukan dimana perihal rindu ini? Yg makin hari kian menumpuk
Kau tau. Rinduku tak biasa
Tak ingin melepas, tapi tak ada alasan pula untuk menahan
Terkadang terasa berat merinduimu.
Apakah aku berhak
Apa aku mampu
Ketika rinduku hanya sebatas semilir angin tersampaikan padamu
Seperti tak punya nyawa untuk bisa berjalan ke arahmu, lunglai tak ada daya
Pertemuan tidak memberikan jaminan untuk tidak lagi merindu
Apalah daya, rindu diantara kita terlanjur bernyawa. Saat dekat, ia hanya jinak. Ada jarak, ia meringik
Dan aku hanya bisa diam, menutup mata, memutar kenangan. Berharap rindu sedikit berkurang
Adakah elemen pengendali rindu?
Rinduku juga menarik,
Diam tak berkutik
Saat yg ku rindukan di depan mata
Aku larut terlena.
Perihal rindu
Ada banyak rasa di dalamnya
Dan teramat menyiksa
Lalu, kita tumpukan dimana perihal rindu ini? Yg makin hari kian menumpuk
Kau tau. Rinduku tak biasa
Tak ingin melepas, tapi tak ada alasan pula untuk menahan
Terkadang terasa berat merinduimu.
Apakah aku berhak
Apa aku mampu
Ketika rinduku hanya sebatas semilir angin tersampaikan padamu
Seperti tak punya nyawa untuk bisa berjalan ke arahmu, lunglai tak ada daya
Selasa, 12 November 2019
Rindu
Seharian bersamamuu
Kenapa masih saja harus di hadapkan dengan rindu
Di suguhkan dengan begitu sayu
Di penghujung malam
Aku terdiam
Sesaat sebelum aku terlelap dalam malam
Tenggelam dalam kelam
Aku berdoa
Semoga Tuhan, berbaik hati padaku malam ini
Agar ku temui kau dalam mimpi
Agar esok hari, ku sambut mentari dengan riang hati
Tanpa gundah yang menyelimuti
Karna rindu yang selalu datang menghampiri
Kenapa masih saja harus di hadapkan dengan rindu
Di suguhkan dengan begitu sayu
Di penghujung malam
Aku terdiam
Sesaat sebelum aku terlelap dalam malam
Tenggelam dalam kelam
Aku berdoa
Semoga Tuhan, berbaik hati padaku malam ini
Agar ku temui kau dalam mimpi
Agar esok hari, ku sambut mentari dengan riang hati
Tanpa gundah yang menyelimuti
Karna rindu yang selalu datang menghampiri
Kamis, 07 November 2019
Ingatan..
Sepiii...
Gumamku dalam hati. Sembari menatap foto-foto yang tertempel rapi memenuhi dinding kamarku,seakan menarik perhatian untuk mengenang seseorang yang membuat ku ambigu. Aku menghela nafas sambil menata bantal untuk ku tiduri.
Aku yang dulunya seorang yang introvert dengan mudahnya aku di ubah menjadi seorang yang ekstrovert.Seseorang yang sampai sekarang aku tidak paham siapa dirinya, bahkan untuk memahami nya pun terasa sulit sekali.
"Rini dek, bisa kemari sebentar.sekarang?? "
"Oh.iya kk,habis kelas langsung kesitu" Jawabku singkat sambil menutup telfon dari kk OGI dengan perintah nya yang jelas dan tegas.Tidak lama dari itu, kelas di bubarkan akupun bergegas menuju lokasi yang di perintah kan kk OGI tadi,
"Kok, rame banget" Gumamku dalam hati sambil menggandeng kk OGI yang sedari tadi menunggu kedatangan ku.
Ku tatapi satu persatu wajah mereka yang ada di sana. Belum sempat bertanya apa yang terjadi, tiba-tiba kk OGI memeluk dan mengusap-usap punggung ku,dengan suara sedikit serak berkata "yang sabar ya dek".
Lagi-lagi, belum sempat terjawab rasa penasaran ku, aku di arahkan masuk ke dalam rumah. Dengan perasaan was-was aku melewati ambang pintu dengan kaki gemetar, ku dapati sesosok insan terbaring kaku dengan wajahnya yang pucat,dengan lekat ku pandang ibu dan saudara nya menangis mengepalkan tangan memukul dada seolah sedang dalam sakit yang mendalam. Seketika semua menjadi hancur ,gelap, hening, sepii, begitu menyesakkan sakit hingga kakiku tak lagi mampu menahan, aku terjatuh dan semua hilang.
Gumamku dalam hati. Sembari menatap foto-foto yang tertempel rapi memenuhi dinding kamarku,seakan menarik perhatian untuk mengenang seseorang yang membuat ku ambigu. Aku menghela nafas sambil menata bantal untuk ku tiduri.
Aku yang dulunya seorang yang introvert dengan mudahnya aku di ubah menjadi seorang yang ekstrovert.Seseorang yang sampai sekarang aku tidak paham siapa dirinya, bahkan untuk memahami nya pun terasa sulit sekali.
"Rini dek, bisa kemari sebentar.sekarang?? "
"Oh.iya kk,habis kelas langsung kesitu" Jawabku singkat sambil menutup telfon dari kk OGI dengan perintah nya yang jelas dan tegas.Tidak lama dari itu, kelas di bubarkan akupun bergegas menuju lokasi yang di perintah kan kk OGI tadi,
"Kok, rame banget" Gumamku dalam hati sambil menggandeng kk OGI yang sedari tadi menunggu kedatangan ku.
Ku tatapi satu persatu wajah mereka yang ada di sana. Belum sempat bertanya apa yang terjadi, tiba-tiba kk OGI memeluk dan mengusap-usap punggung ku,dengan suara sedikit serak berkata "yang sabar ya dek".
Lagi-lagi, belum sempat terjawab rasa penasaran ku, aku di arahkan masuk ke dalam rumah. Dengan perasaan was-was aku melewati ambang pintu dengan kaki gemetar, ku dapati sesosok insan terbaring kaku dengan wajahnya yang pucat,dengan lekat ku pandang ibu dan saudara nya menangis mengepalkan tangan memukul dada seolah sedang dalam sakit yang mendalam. Seketika semua menjadi hancur ,gelap, hening, sepii, begitu menyesakkan sakit hingga kakiku tak lagi mampu menahan, aku terjatuh dan semua hilang.
Rabu, 06 November 2019
Kenangan malam
Aku yang bersemayam dalam kerinduan
Dalam keheningan malam
Kau datang dengan serangkai senyuman
Kau peluk erat dalam diam
Semerbak aroma kembang sedap malam
Mengiringi setiap belaian
Seolah meberikan isyarat pada malam
Akan kerinduan yang terlampiaskan
Ku tatap lekat matamu
Dan lagi kau hanya berikan senyuman
Untuk mu,
Kasihku,
Kurangkai kan secarik kasih sayang
Agar bisa kau genggam saat kau lupa jalan pulang
Untuk dikau yang ku sayang,
Dalam keheningan malam
Kau datang dengan serangkai senyuman
Kau peluk erat dalam diam
Semerbak aroma kembang sedap malam
Mengiringi setiap belaian
Seolah meberikan isyarat pada malam
Akan kerinduan yang terlampiaskan
Ku tatap lekat matamu
Dan lagi kau hanya berikan senyuman
Untuk mu,
Kasihku,
Kurangkai kan secarik kasih sayang
Agar bisa kau genggam saat kau lupa jalan pulang
Untuk dikau yang ku sayang,
Senin, 04 November 2019
Panorama senja
Panorama senja..
Biasnya memberikan isyarat
Akan kenangan yang melekat
Ku susuri lautan
Dan kutemui secarik ingatan
Akan kenangan yang belum usai ku ceritakan
Pada bulan....
Pada bintang....
Pada awan......
Pada malam......
Biasnya memberikan isyarat
Akan kenangan yang melekat
Ku susuri lautan
Dan kutemui secarik ingatan
Akan kenangan yang belum usai ku ceritakan
Pada bulan....
Pada bintang....
Pada awan......
Pada malam......
Minggu, 03 November 2019
Cerita semalam
Semalam aku bermimpi,
Bertemu insan yang memikat hati
Dengan tatapan dan senyuman yang mencuri
Meski hanya samar-samar, ku coba mengenali
Cerita kita belum usai,
Tunggu saat mentari benar-benar pergi
Saat pagi berganti hari
Alunan senja memberikan isyarat
Akan rasa yang belum tersirat
Tunggu aku di penghujung malam
Akan ku temui kau dalam kelam
Pangeran malam
Tanpa bayangan..
Bertemu insan yang memikat hati
Dengan tatapan dan senyuman yang mencuri
Meski hanya samar-samar, ku coba mengenali
Cerita kita belum usai,
Tunggu saat mentari benar-benar pergi
Saat pagi berganti hari
Alunan senja memberikan isyarat
Akan rasa yang belum tersirat
Tunggu aku di penghujung malam
Akan ku temui kau dalam kelam
Pangeran malam
Tanpa bayangan..
Terpuruk
Sepi,
Seperti tak ada kehidupan
Seolah jiwaku telah pergi bersamanya
Terasa begitu kosong
Sakit nan mengecewakan
Anehnya
Anganku masih tentang mu
Inginku masih bersama mu
Harapku masih Kepadamu
Kemana lagi aku bisa pergi
Agar setiap langkahku tak terasa begitu berat
Mengingat akan luka yang telah di perbuat
Siapapun,
Aku butuh uluran tanganmu
Keluar kan aku dari keterpurukan i
Di penghujung malam
Ku amati lekat matamu dalam ingatanku
Terbesit kenangan
Akan harap penuh angan
Janji manis yang tersampaikan
Ombak berdesir
Rembulan meredup
Para bintang bersautan
Bersama keheningan
Ku bersamai kegundahan
Terjebak akan dua rasa
Rasa sayang , Rasa kecewa
Malam semakin larut
Pagi hampir menjemput
Masih juga tak kutemui
Terbesit kenangan
Akan harap penuh angan
Janji manis yang tersampaikan
Ombak berdesir
Rembulan meredup
Para bintang bersautan
Bersama keheningan
Ku bersamai kegundahan
Terjebak akan dua rasa
Rasa sayang , Rasa kecewa
Malam semakin larut
Pagi hampir menjemput
Masih juga tak kutemui
..........
Langganan:
Komentar (Atom)