***
Seperti tabu untuk di bicarakan
Kedua kaki telanjang
Bergemuruh,
Secepat basah lalu mengering
Berdesir,
Hembusan,
Kepuasan,
Keputusasaan,
Dan menutup mata
Seperti itu saja, lalu berakhir.
***
Seperti tabu untuk di bicarakan
Kedua kaki telanjang
Bergemuruh,
Secepat basah lalu mengering
Berdesir,
Hembusan,
Kepuasan,
Keputusasaan,
Dan menutup mata
Seperti itu saja, lalu berakhir.

Fajar...
Sesuai dengan nama mu
Aku berharap banyak terhadap mu
Tentang kebahagiaan ku
Juga hari-hari ku kedepan
Sekalipun aku kecewa, aku berharap padamu agar menjadi yang paling bersedia ada untuk ku
Aku melihat banyak pada diri mu
Yang tak ku lihat di kebanyakan orang
Jujur..
Aku menikmati nya
Sesuai dengan namamu...
Kehadiran dirimu
Terbit lah terang
Semoga menjadi cahaya pada setiap jalanku
Setelah waktu" petang(panjang) yang ku lalui
Dengan semua yang tersisa, aku putuskan untuk mempercayakannya padamu
Semoga, yang ku semoga kan dapat kau aminkan
Dan meluluhkan tuhan agar kiranya di jodoh kan
Tentang mu...
Adalah kerinduan yang terus aku aminkan.
Jalanan ini tak lagi ramai
Tidak seramai apa yang ada di kepala ku
Angin berhembus
Rindu menyeruak
Membelai lembut batinku
Secangkir kopi hangat datang
Dengan sebait kalimat
"jangan di biarkan terlalu lama, nanti dingin"
Tergelak aku mendengarnya
Ternyata banyak hal yang telah berubah
Dan memang harus berubah
Gedung-gedung tinggi
Jalanan rusak
Pusat perbelanjaan
Dan kita
Tak sekali aku mengingat mu
Bahkan duduk di sini adalah untuk mengenang mu
Seperti halnya buku,
Aku hanya membuka kepada yang ingin aku baca
Bukan semata tertarik dengan penulis atau pun sampulnya
Tetapi dengan apa yang ada di dalamnya
Dalam setiap katanya
Dalam kesatuan kalimat-kalimat nya
Dalam bait setiap lembaran nya
Dalam BUKU
Aku membaca dirimu yang tidak aku baca pada diri yang lain
Kita bercengkrama, beradu pendapat
Saling unjuk diri siapa paling tepat
Nyatanya..
Kita hanya diam saling menatap
Tanpa tau apa yang harus terucap
Diam menjadi alasan ku
Saat jauh adalah satuan jarak terdekat yang berlaku untuk ku padamu
Saat jarak berkolaborasi dengan waktu untuk mengulur temu
Terkungkung dalam hangat nya rindu
Ketika diam menjadi saksi terlafalnya syair tentangmu
Untuk menghadirkan sosokmu
Meski sebatas dalam ingatan yang tak padu
DIAM, itu caraku.
Bermodalkan rasa nyaman dia rela di pelacuri
Tubuhnya bak tempat sampah pembuangan sperma
Mengatasnamakan rindu
Pakaiannya habis di lucuti dengan nafsu
Entah pasrah atau mati rasa
Katanya sama saja
Seperti tumbuh di tengah panasnya gurun atau tumbuh di tengah dinginnya salju
Sama saja....
Tak sekalipun menjadi kannya suci kembali.
Ada yang datang tanpa izin..
Ada yang datang karna di panggil...
Ada yang datang karena pamit....
Ruang itu bukti
Benda-benda di dalam nya adalah saksi
Tisu-tisu lusuh berbau anyir
Entah tempat prostitusi
Atau tempat aman
Untuk gadis pelarian
Bahkan hatiku sudah enggan bersetubuh dgn rasamu
Pikiran ku yg tak henti-hentinya menggeliat menolak bayangmu
Nadi nadi yang terus menggema
Suara-suara sumbang tentang mu
Degup jantung beriramakan alunan-alunan kecewa
Memaksa mengalir kn darah kebencian ke setiap hilir tubuhku
..
..
Seluka itu ternyataa